Kemenperin Resmikan Aturan TKDN Ponsel 4G

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah selesai membuat perhitungan investasi untuk memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G yang beredar di Indonesia, dan meresmikannya.

Tata cara tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustiran (Permenperin) Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

“Ya, sudah resmi berlaku (Permenperin No 65 tahun 2016). Ini tidak ada perubahan,” terang Direktur Jenderal Industri Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate), Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan dalam pesan singkatnya kepada KompasTekno, Selasa (6/9/2016) malam.

Putu mengatakan, tata cara yang termuat dalam aturan tersebut saat ini telah diketahui oleh semua vendor ponsel, karena mereka memang dilibatkan dalam proses penyusunan konsepnya. Sekarang tinggal vendor memilih skema mana yang paling sesuai dengan situasi mereka.

“Semua vendor terlibat waktu penyusunan konsepnya, jadi sebetulnya tidak perlu kami sosialisasikan lagi,” pungkasnya.

Permenperin No 65 tahun 2016 tersebut ditandatangani oleh Menteri Perindustrian terdahulu Saleh Husin. Lebih detilnya, Anda bisa klik tautan ini untuk membuka peraturan tersebut.

Sekilas tentang aturan TKDN ponsel 4G yang baru

Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenperin, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sepakat untuk menetapkan aturan TKDN pada perangkat genggam berteknologi 4G LTE.

Vendor yang ingin berjualan perangkat genggam tersebut di Indonesia, mesti memenuhi syarat TKDN 30 persen pada 1 Januari 2017.

Meski telah disebutkan syarat demikian, pemerintah dan para pemangku kepentingan tak kunjung sepakat dengan tata cara investasi untuk memenuhi nilai TKDN. Pembahasan pun terjadi cukup lama.

Hingga akhirnya, pada medio Agustus lalu muncul salinan Permenperin No 65 tahun 2016 yang merinci tata cara investasi TKDN.

Baca: Eksklusif: Ini Bocoran Isi Aturan TKDN Ponsel 4G

Kini, aturan tersebut telah diumumkan dan diunggah ke situs resmi Kemenperin. Vendor tinggal memilih jalur yang diinginkan untuk memenuhi TKDN pada perangkat genggam 4G buatan mereka.

Tiga skema

Total ada tiga skema yang ditawarkan oleh pemerintah pada para vendor, sesuai dengan isi Permenperin No 65 tahun 2016.

Pertama, sesuai dengan Pasal 4 yang merinci bahwa vendor mesti memenuhi:

aspek manufaktur = 70 persen
aspek riset dan pengembangan = 20 persen
aspek aplikasi = 10 persen
Aspek aplikasi tersebut, kemudian dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:
Nilai TKDN untuk riset dan pengembangan minimal 8 persen
Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, atau komputer tablet
Minimal pre load 2 aplikasi atau 4 games lokal
Minimal jumlah pengguna aktif aplikasi lokal 250.000 orang
Injeksi software di dalam negeri
Server di dalam negeri
Memiliki toko aplikasi online lokal
Kedua, pemenuhan TKDN dapat disesuaikan dengan cara yang terdapat dalam Pasal 23 ayat (1), yaitu:

aspek manufaktur = 10 persen
aspek riset dan pengembangan = 20 persen
aspek aplikasi = 70 persen
Aspek aplikasi pada Pasal 23 ayat (1) ini dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:

Nilai TKDN untuk aspek riset dan pengembangan minimal 8 persen
Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, dan komputer tablet
Minimal pre load 7 aplikasi atau 14 game lokal
Minimal aplikasi lokal memiliki pengguna aktif 1.000.000 orang
Injeksi software dilakukan di dalam negeri
Server di dalam negeri
Memiliki toko aplikasi online lokal
Harga Cost, Insurance, and Freight (ClF) minimal senilai Rp 6 juta
Ketiga, dalam Pasal 25, dimuat penjelasan mengenai pemenuhan TKDN melalui komitmen dan realisasi investasi.

Syaratnya, perhitungan TKDN berbasis nilai investasi ini hanya berlaku untuk investasi baru, dilaksanakan berdasarkan proposal investasi yang diajukan pemohon dan mendapatkan nilai TKDN sesuai total nilai investasi.

Investasi tersebut pun harus diwujudkan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun. Tata caranya, pada tahun pertama vendor mesti merealisasikan 40 persen dari total investasi yang disepakati. Sedangkan sisanya dipenuhi pada tahun-tahun berikutnya.

Vendor mesti menyertakan detail mengenai investasi yang dilakukan tiap tahun, juga mencantumkan tipe produk yang bakal memakai skema penghitungan TKDN berdasarkan nilai investasi.

Rincian nilai investasi yang dimaksud adalah :

Investasi total mulai dari Rp 250 miliar sampai Rp 400 miliar = TKDN 20 persen
Investasi total di atas Rp 400 miliar sampai Rp 550 miliar = TKDN 25 persen
Investasi total di atas Rp 550 miliar sampai Rp 700 miliar = TKDN 30 persen
Investasi total lebih dari Rp 1 triliun = TKDN 40 persen

Mengapa Menara BTS di Jakarta Jadi Mirip Pohon?

Belakangan ini, di media sosial ramai diperbincangkan soal menara yang berbentuk menyerupai pohon, tetapi terlihat memiliki sejumlah kelengkapan pemancar sinyal di puncaknya. “Pohon-pohon” tersebut banyak ditemui di Jakarta.

Apakah “pohon” tersebut adalah menara operator seluler biasa? Salah satu pihak dari operator seluler mengatakan, menara tersebut memiliki fungsi sebuah base transceiver station (BTS) biasa, hanya disamarkan.

“Itu BTS yang disamarkan menjadi pohon. Namanya BTS Camouflage. Biasanya dipasang karena kebutuhan estetika di daerah tersebut,” kata General Manager Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuningsih, saat dihubungi KompasTekno, Selasa (6/9/2016).

Bentuk penyamaran BTS, imbuh wanita yang disapa Ayu itu, tak sekadar meniru bentuk pohon saja. Masih ada ragam bentuk lain yang dipakai, salah satunya berbentuk kubah masjid.

“Kalau BTS Camouflage XL, di antaranya ada di wilayah Senayan dan Lenteng Agung,” katanya.

Walaupun terdiri dari beragam bentuk, BTS tersebut tetaplah memiliki fungsi yang sama. Sinyal komunikasi, mulai dari 2G 3G, hingga 4G, dipancarkan dari BTS tersebut.

Selain XL, operator lain pun ada yang memiliki BTS Camouflage. Salah satunya Telkomsel yang memasang menara dengan bagian pucuk menyerupai pohon palem.

“Dari sisi estetika lingkungan, Telkomsel mengimplementasikan solusi BTS yang mendukung keasrian lingkungan melalui pengembangan inovasi antena kamuflase (towerless),” kata VP Corporate Communication Telkomsel, Adita Irawati.

Umumnya antena kamuflase Telkomsel dibangun di kawasan pemukiman padat penduduk, di mana pembangunan menara BTS tidak dimungkinkan karena ketiadaan lahan.

Solusi ini memungkinkan antena BTS dipasang di berbagai fasilitas umum yang disamarkan, seperti di menara masjid, pohon, tiang lampu, tangki air, dan sebagainya.

Kawasan di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang sudah diterapkan antena kamufase ini di antaranya di Menteng dan Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang.

Dimas Widyasastrena
Salah satu akun media sosial yang menyebut soal BTS pohon
Sebelumnya, netizen sempat ramai membagikan foto pohon yang digelantungi alat pemancar.

Pantauan KompasTekno di Facebook, salah satu yang membagikan foto BTS jenis ini adalah akun Dimas Widyasastrena.

“Ini BTS? Pohon? Pohon jadi BTS? Apa BTS jadi pohon? Oh ya, nama latinnya GeSeMin FORJItus,” canda akun tersebut.

Cara Swedia Atasi Konflik “Startup” dengan Perusahaan Tradisional

Industri teknologi menjadi salah satu penggerak ekonomi di Swedia sejak 2005 lalu. Pada tahun itu, Skype tercatat sebagai startup unicorn pertama yang dicetak Swedia, kemudian disusul Spotify, King, Mojang, dan Klarna. Ibukota Swedia, Stockholm, bahkan dijuluki sebagai Silicon Valley-nya Eropa.

Julukan unicorn sendiri diberikan kepada startup yang memiliki nilai valuasi minimal 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun.

Menurut Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, Indonesia punya potensi yang sama besar untuk mengembangkan industri teknologi, lebih spesifiknya startup. Kemunculan Go-Jek, Tokopedia, dan Bukalapak, dinilai sebagai awal yang baik.

Meski demikian, Johanna tak menampik transformasi digital membawa tantangan bagi pemerintah. Salah satunya dalam menjembatani kemunculan startup dengan industri tradisional yang telah mapan.

“Selalu ada konflik, di Swedia pun seperti itu. Tapi apapun yang terjadi tak ada yang bisa menghentikan perkembangan teknologi,” kata dia di sela-sela acara “Indonesian-Swedish Digital Forum 2016” di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Cara mengatasi konflik

Johanna mengatakan hal yang paling krusial untuk mengatasi konflik adalah regulasi yang tegas dan sistem keamanan yang memadai. Selain itu, pemerintah juga perlu sering-sering berdiskusi dengan pelaku startup dan perusahaan konvensional.

Di Swedia, kata dia, pemerintah sudah lebih awal menyadari urgensi pengembangan teknologi. Karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan secara penuh mendukung ekosistem startup dan transformasi digital.

“Semua pihak harus berkolaborasi. Para sopir taksi tak mungkin selamanya jadi sopir taksi. Era berubah, industri juga selalu berevolusi. Makanya edukasi teknologi sangat penting,” ia menuturkan.

Johanna sesumbar transformasi digital di Swedia tak cuma diarahkan di sektor bisnis. Sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan juga mengimplementasikan inovasi teknologi. Hal tersebut diyakini mampu menyosialisasikan secara otomatis tentang pentingnya penerapan teknologi bagi masa depan.

Dalam perjalanannya di Indonesia, kemunculan startup yang menumpas kemapanan alias “disruptive” menghadapi halangan. Misalnya Go-Jek yang beberapa kali bersitegang dengan para pengemudi ojek tradisional.

Go-Jek menyediakan layanan ojek on-demand berbasis aplikasi untuk mengatasi masalah kemacetan dan kesulitan mendapat ojek di daerah tertentu. Inisiatif itu dianggap sebagian ojek tradisional sebagai perampasan pasar.

Aturan konkrit soal operasi layanan transportasi baru yang disebut ride-sharing ini sedang digodok oleh pemerintah sejak awal tahun ini. Selain Go-Jek yang merupakan startup lokal, aturan itu juga bakal mengikat Grab, Uber, dan layanan serupa.

GoPro Tak Sengaja Bocorkan “Drone” Buatannya

Minggu lalu, GoPro mengumumkan rencana untuk memperkenalkan drone buatannya, tanpa memberi gambaran seperti apa wahana terbang nirawak tersebut.

Namun, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari SlashGear, Selasa (6/9/2016), foto drone yang bakal dinamakan Karma itu tiba-tiba muncul secara prematur di sejumlah situs GoPro untuk wilayah Eropa, termasuk Italia, Jerman, dan Perancis.

Dalam gambar, tampak drone yang bersangkutan memiliki 4 rotor dengan kamera mirip GoPro Hero terpasang di mounting sisi depan.

Sejauh ini, selain 4 rotor tersebut, masih belum banyak informasi yang diketahui mengenai Karma. GoPro hanya mengatakan drone tersebut bakal dibekali kemampuan merekam video 4K, stabilisasi kamera, berikut sejumlah “fitur revolusioner” yang tak diungkapkan.

Drone Karma awalnya dijadwalkan meluncur pada pertengahan tahun ini, tetapi kemudian ditunda.

Selain drone bernama Karma itu, muncul pula gambar-gambar kamera aksi GoPro Hero 5 dan handheld stabilizer mirip DJI Osmo. Semuanya merupakan produk baru yang belum resmi diumumkan.

Rumor yang beredar menyebutkan bahwa kamera aksi Hero 5 itu bakal dilengkapi layar sentuh dan kemampuan anti-air secara default tanpa butuh casing tambahan.

GoPro bakal menggelar acara pada 19 September mendatang. Event tersebut diperkirakan bakal menjadi ajang perkenalan resmi produk-produk anyar di atas.

Orang Indonesia Dengar Lagu di Spotify 90 Menit Sehari

Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna Spotify paling cepat se-Asia Tenggara. Lima bulan pasca diluncurkan di Tanah Air, Spotify telah digunakan untuk mendengar musik selama 1.165 menit.

Managing Director Spotify Asia, Sunita Kaur mengatakan, rata-rata pengguna di Indonesia mendengar musik 90 menit per hari. Meski demikian, Kaur masih enggan mengungkap jumlah riil pengguna layanan music streaming asal Swedia tersebut.

Menurut Sunita, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Spotifytak lepas dari beberapa strategi khusus yang dilancarkan, salah satunya adalah mengakomodir konten lokal.

“Kami bukan meluncurkan Spotify di Indonesia, tapi meluncurkan Spotify Indonesia,” kata dia, Selasa (6/9/2016) di sela acara Swedish – Indonesian Digital Forum di Jakarta.

Beberapa penyanyi lokal telah digandeng untuk bekerja sama menyediakan konten khusus di Spotify, salah satunya penyanyi solo pria kawakan, Tulus.

Selain itu, beberapa playlist populer lokal juga dipampang di laman depan akun Spotify pengguna Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Generasi Galau, Top Hits Indonesia, dan Kopikustik.

Sunita yakin Spotify mampu menjadi layanan music streaming pilihan bagi mayoritas masyarakat Indonesia di tengah banyaknya layanan serupa yang bermunculan. Sebut saja Yonder, Apple Music, Guvera, dan kawanannya.

“Kami ingin memudahkan pengguna, bahkan untuk metode pembayaran sekalipun. Selain dengan kartu kredit, pembayaran layanan premium bisa melalui transfer bank dan ATM, Doku Wallet, Alfamart, dan Lawson,” ia menjelaskan.

Ke depan, kata Sunita, Spotify akan terus mendengar masukan dan belajar tentang kebiasaan pengguna di Indonesia. Perempuan berdarah India tersebut mengklaim pihaknya selalu berkonsultasi dengan pemerintah dan rekanan di Tanah Air.

“Semua urusan hukum kami patuhi. Ini bentuk keseriusan kami,” ujarnya.

Indonesia Bisa Jadi Pasar Pesawat Jet Pribadi Terbesar Se-ASEAN

Indonesia diprediksi akan menjadi pasar pesawat jet pribadi (business jet/bizjet) terbesar di Asia Tenggara (ASEAN) dalam kurun dua hingga tiga tahun mendatang.

Hal itu diungkapkan oleh Jean Michel Jacob, President of Dassault Falcon Asia-Pacific saat berjumpa dengan sejumlah media di Jakarta, Kamis (1/9/2016) lalu.

“Jumlah pertumbuhan pesawat jet pribadi di Indonesia pada tahun lalu saja sebesar 16 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan di Asia yang sebesar 6 persen,” kata Jacob.

Menurut data yang dibeberkan oleh Dassault, ada 52 jet pribadi di tahun 2015 yang ada di Indonesia. Jumlah itu meningkat dari sekitar 30-an pesawat pada 2011 lalu.

Urusan kepemilikan pesawat bizjet ini, Indonesia sendiri saat ini masih berada di nomor dua di bawah Singapura. Namun dengan pertumbuhan seperti di atas, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah pesat jet pribadi terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Jacob, ada dua faktor yang mendukung Indonesia sebagai pasar bizjet terbesar di Asia Tenggara, yaitu dari faktor ekonomi dan geografi.

Dari faktor ekonomi, setidaknya ekonomi yang dinamis dan beragam, disertai dengan pertumbuhan GDP menjadi faktor. Belum lagi bisnis yang kian global.

Menurut laporan Credit Suisse, jumlah miliarder di Indonesia – yang notabene menjadi target pasar jet pribadi – diperkirakan akan naik 54 persen dalam empat tahun mendatang, dari 98.000 menjadi 151.000 orang.

Sementara dari sisi geografi, Indonesia dianggap beruntung karena berada di persimpangan area-area bisnis besar, seperti Jepang, Timur Tengah, Afrika, dan Australia.

“Indonesia juga merupakan negara kepulauan, dimana jet pribadi menjadi solusi yang cepat dan sederhana untuk transportasi dan perdagangan,” kata Jacob.

Baca: Jet Pribadi Falcon 8X Ditawarkan Mulai Rp 762 Miliar

Semakin banyaknya jet pribadi yang beroperasi di suatu negara juga bisa membuka lapangan kerja baru di sektor penerbangan, seperti bisnis bengkel dan perawatan pesawat (MRO), penerbangan regional, konsultan, sekolah penerbangan, katering, dan sebagainya.

Regulasi yang membayangi

Fakta-fakta yang mendukung Indonesia sebagai pasar jet terbesar di Asia Tenggara seperti di atas memang sepintas “memabukkan,” namun pada kenyataannya, Indonesia sendiri masih dibayang-bayangi oleh regulasi.

Jika regulasi ini terus membayangi, bukan tidak mungkin potensi Indonesia sebagai pasar terbesar bizjet di Asia Tenggara akan terhambat, dan kesempatan itu diambil oleh negara lain.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Peraturan Menteri Perhubungan No 66 Tahun 2015 menyebutkan, angkutan udara bukan niaga dan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri dengan pesawat udara sipil asing, wajib mengantongi tiga izin sebelum masuk wilayah Indonesia.

Bila izin sudah dikantongi, angkutan udara bukan niaga dan angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri dengan pesawat udara sipil asing hanya dapat mendarat atau lepas landas dari satu bandara internasional saja.

Izin pertama, diplomatic clearance dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Selanjutnya, security cleareance dari TNI dan terakhir, flight approval dari Kemenhub.

shutterstock
Ilustrasi layanan private jet
Di sisi lain, jika seseorang ingin memiliki pesawat dengan registrasi Indonesia, izin dan pajaknya masih tergolong tinggi.

“Sekarang kalau mau PK (menggunakan registrasi Indonesia), kalo mau non-komersil (jet pribadi), selain kena pajak tinggi, izin operasinya juga ribet,” kata pengamat penerbangan Gerry Soejatman.

“Kalo (menggunakan registrasi) PK ya siap-siap lunas sebelum delivery (pesawat dikirim),” kata Gerry.

Aturan inilah yang kemudian biasanya memberatkan perusahaan finansial dalam melakukan pembayaran pembelian jet pribadi. Harga jual kembali pesawat beregistrasi PK (Indonesia) juga menurut Gerry lebih rendah dibanding pesawat registrasi N (AS) atau VP (koloni Inggris).

Sementara juru bicara Dassault Aviation, Leithen Francis saat berbincang dengan KompasTekno mengatakan, hampr separuh dari pesawat-pesawat jet pribadi yang ada di Indonesia masih menggunakan registrasi luar (non-PK).

“Banyak yang menyayangkan regulasi pemerintah Indonesia, investor akan kesulitan jika ingin bekrunjung ke daerah, baik untuk tujuan bisnis atau wisata,” tutur Francis.

Aturan yang sederhana

Ribetnya membeli pesawat jet pribadi di Indonesia ini juga diakui oleh Yon Karyono, airworthiness inspector dan praktisi dunia penerbangan.

Dijelaskan oleh Yon, sebelum mengurus Certificate of Airworthiness (kelayakan pesawat) dan Certificate of Registration (pendaftaran pesawat), calon pembeli harus mengajukan izin prinsip yang di dalamnya menerangkan apa tujuan membeli pesawat, di mana mau beroperasi, perawatan, kondisi keuangan, karyawan, dan sebagainya.

“Kalau izin prinsip selesai, lalu mengurus izin ke menteri kalau pesawat dari luar, kalau pesawat dari dalam negeri cukup izin Dirjen,” imbuhnya.

Dibandingkan mengurus di luar negeri, menurut Yon, mereka cukup mengajukan izin ke FAA, tidak perlu izin Menteri.

Namun demikian, Yon merasa aturan di Indonesia perlu dibuat. “Harusnya izin, tapi dipermudah dan dipersingkat, kalau tidak izin nanti malah liar tak terkontrol,” jelasnya.

Review: Lenovo Vibe K4 Note, Kaya Fitur dengan Harga Bersahabat

Ponsel dua jutaan tak selalu membawa kualitas “kelas dua”. Prinsip itu yang hendak disampaikan Lenovo melalui ponsel Vibe K4 Note yang resmi meluncur di Tanah Air pada Maret 2016 lalu.

Vibe K4 Note baru dengan nomor model A7010a48 ini merupakan evolusi dari Lenovo K4 Note sebelumnya (A7010) keluaran Desember 2015. Dua kakak-beradik itu sepintas mirip dari segi desain maupun spesifikasi. Hanya saja, Vibe K4 Note hadir sebagai penyempurnaan dari sang kakak.

Tak cuma membenamkan spesifikasi tangguh di kelasnya, Vibe K4 Note juga memanjakan para pecinta film dan musik. Seperti apa kemampuannya? Simak ulasan KompasTekno berikut.

Desain simple dan fungsional

Jika Anda pernah memegang A71010, maka Vibe K4 Note tak akan menghadirkan kejutan baru. Ponsel itu masih mengusung layar 5,5 inci dengan tampilan Full HD beresolusi 1080×1920 piksel.

Sisi atas dan bawah layar dipatrikan kisi-kisi speaker yang simetris. Keduanya berfungsi mengeluarkan suara lawan bicara via telepon atau audio dari pemutar musik dan video.

Ada pula lampu indikator, kamera 5 megapiksel, serta tiga tombol navigasi yang bisa dilihat pada sisi depan Vibe K4 Note. Tombol-tombol navigasi itu berupa soft button sehingga terkesan menyatu dengan layar sentuh.
Oik Yusuf/Kompas.com
Sisi samping Lenovo Vibe K4 Note
Menilik ke sisi samping, Vibe K4 Note menghadirkan kesan sederhana dan elegan dengan balutan aluminium yang kokoh. Empat sudutnya dibikin tumpul agar terkesan futuristik dan anti kaku.

Hanya ada dua tombol fisik yang tertanam di sisi samping kanan ponsel. Masing-masing berfungsi untuk menurunkan dan menaikkan volume serta mematikan dan menghidupkan layar.

Oik Yusuf/Kompas.com
Sisi atas Lenovo Vibe K4 Note

Menengadah ke atas, ada port audio jack 3,5 mm standar untuk menghubungkan ponsel dengan headset. Di sisi bawah tersemat port micro-USB standar.

Fatimah Kartini Bohang/Kompas.com
Sisi bawah Lenovo Vibe K4 Note

Jika ada skor kenyamanan pengenggaman, Vibe K4 Note bisa meraih nilai tinggi. Rancangan punggungnya bisa dibilang mantap mengikuti tekstur genggaman orang dewasa.

Oik Yusuf/Kompas.com
Sisi punggung Lenovo Vibe K4 Note

Lengkungannya pas dengan bahan plastik polikarbonat yang ringan namun tetap kokoh. Teksturnya kesat agar ramah bagi tangan yang suka berkeringat.

Tekstur demikian juga menambah nilai estetik smartphone yang jadi terkesan menggunakan material premium, meski sebenarnya berbahan plastik.

Kamera utama dengan sensor 13 megapiksel nangkring di sisi punggung bagian tengah atas. Kamera itu ditemani dual flash untuk menerangi subyek saat pemotretan dalam kondisi kurang cahaya.

Ada pula sensor pemindai sidik jari alias fingerprint scanner yang ditaruh di bawah kamera. Fitur keamanan ini bisa menjalankan beberapa fungsi seperti membuka kunci ponsel, menutup aplikasi untuk kembali ke laman home, serta membersihkan aplikasi-aplikasi yang terbuka.

Oik Yusuf/Kompas.com
Bukaan punggung Lenovo Vibe K4 Note

Ketika membuka penutup punggung polikarbonat itu, Anda akan mendapati unit baterai berkapasitas 3.300 mAh. Ada juga dua slot untuk kartu SIM yang bisa dimanfaatkan di jaringan 2G, 3G, dan 4G.