Kemenperin Resmikan Aturan TKDN Ponsel 4G

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah selesai membuat perhitungan investasi untuk memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk ponsel 4G yang beredar di Indonesia, dan meresmikannya.

Tata cara tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustiran (Permenperin) Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

“Ya, sudah resmi berlaku (Permenperin No 65 tahun 2016). Ini tidak ada perubahan,” terang Direktur Jenderal Industri Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate), Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan dalam pesan singkatnya kepada KompasTekno, Selasa (6/9/2016) malam.

Putu mengatakan, tata cara yang termuat dalam aturan tersebut saat ini telah diketahui oleh semua vendor ponsel, karena mereka memang dilibatkan dalam proses penyusunan konsepnya. Sekarang tinggal vendor memilih skema mana yang paling sesuai dengan situasi mereka.

“Semua vendor terlibat waktu penyusunan konsepnya, jadi sebetulnya tidak perlu kami sosialisasikan lagi,” pungkasnya.

Permenperin No 65 tahun 2016 tersebut ditandatangani oleh Menteri Perindustrian terdahulu Saleh Husin. Lebih detilnya, Anda bisa klik tautan ini untuk membuka peraturan tersebut.

Sekilas tentang aturan TKDN ponsel 4G yang baru

Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenperin, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sepakat untuk menetapkan aturan TKDN pada perangkat genggam berteknologi 4G LTE.

Vendor yang ingin berjualan perangkat genggam tersebut di Indonesia, mesti memenuhi syarat TKDN 30 persen pada 1 Januari 2017.

Meski telah disebutkan syarat demikian, pemerintah dan para pemangku kepentingan tak kunjung sepakat dengan tata cara investasi untuk memenuhi nilai TKDN. Pembahasan pun terjadi cukup lama.

Hingga akhirnya, pada medio Agustus lalu muncul salinan Permenperin No 65 tahun 2016 yang merinci tata cara investasi TKDN.

Baca: Eksklusif: Ini Bocoran Isi Aturan TKDN Ponsel 4G

Kini, aturan tersebut telah diumumkan dan diunggah ke situs resmi Kemenperin. Vendor tinggal memilih jalur yang diinginkan untuk memenuhi TKDN pada perangkat genggam 4G buatan mereka.

Tiga skema

Total ada tiga skema yang ditawarkan oleh pemerintah pada para vendor, sesuai dengan isi Permenperin No 65 tahun 2016.

Pertama, sesuai dengan Pasal 4 yang merinci bahwa vendor mesti memenuhi:

aspek manufaktur = 70 persen
aspek riset dan pengembangan = 20 persen
aspek aplikasi = 10 persen
Aspek aplikasi tersebut, kemudian dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:
Nilai TKDN untuk riset dan pengembangan minimal 8 persen
Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, atau komputer tablet
Minimal pre load 2 aplikasi atau 4 games lokal
Minimal jumlah pengguna aktif aplikasi lokal 250.000 orang
Injeksi software di dalam negeri
Server di dalam negeri
Memiliki toko aplikasi online lokal
Kedua, pemenuhan TKDN dapat disesuaikan dengan cara yang terdapat dalam Pasal 23 ayat (1), yaitu:

aspek manufaktur = 10 persen
aspek riset dan pengembangan = 20 persen
aspek aplikasi = 70 persen
Aspek aplikasi pada Pasal 23 ayat (1) ini dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:

Nilai TKDN untuk aspek riset dan pengembangan minimal 8 persen
Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, dan komputer tablet
Minimal pre load 7 aplikasi atau 14 game lokal
Minimal aplikasi lokal memiliki pengguna aktif 1.000.000 orang
Injeksi software dilakukan di dalam negeri
Server di dalam negeri
Memiliki toko aplikasi online lokal
Harga Cost, Insurance, and Freight (ClF) minimal senilai Rp 6 juta
Ketiga, dalam Pasal 25, dimuat penjelasan mengenai pemenuhan TKDN melalui komitmen dan realisasi investasi.

Syaratnya, perhitungan TKDN berbasis nilai investasi ini hanya berlaku untuk investasi baru, dilaksanakan berdasarkan proposal investasi yang diajukan pemohon dan mendapatkan nilai TKDN sesuai total nilai investasi.

Investasi tersebut pun harus diwujudkan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun. Tata caranya, pada tahun pertama vendor mesti merealisasikan 40 persen dari total investasi yang disepakati. Sedangkan sisanya dipenuhi pada tahun-tahun berikutnya.

Vendor mesti menyertakan detail mengenai investasi yang dilakukan tiap tahun, juga mencantumkan tipe produk yang bakal memakai skema penghitungan TKDN berdasarkan nilai investasi.

Rincian nilai investasi yang dimaksud adalah :

Investasi total mulai dari Rp 250 miliar sampai Rp 400 miliar = TKDN 20 persen
Investasi total di atas Rp 400 miliar sampai Rp 550 miliar = TKDN 25 persen
Investasi total di atas Rp 550 miliar sampai Rp 700 miliar = TKDN 30 persen
Investasi total lebih dari Rp 1 triliun = TKDN 40 persen

Mengapa Menara BTS di Jakarta Jadi Mirip Pohon?

Belakangan ini, di media sosial ramai diperbincangkan soal menara yang berbentuk menyerupai pohon, tetapi terlihat memiliki sejumlah kelengkapan pemancar sinyal di puncaknya. “Pohon-pohon” tersebut banyak ditemui di Jakarta.

Apakah “pohon” tersebut adalah menara operator seluler biasa? Salah satu pihak dari operator seluler mengatakan, menara tersebut memiliki fungsi sebuah base transceiver station (BTS) biasa, hanya disamarkan.

“Itu BTS yang disamarkan menjadi pohon. Namanya BTS Camouflage. Biasanya dipasang karena kebutuhan estetika di daerah tersebut,” kata General Manager Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuningsih, saat dihubungi KompasTekno, Selasa (6/9/2016).

Bentuk penyamaran BTS, imbuh wanita yang disapa Ayu itu, tak sekadar meniru bentuk pohon saja. Masih ada ragam bentuk lain yang dipakai, salah satunya berbentuk kubah masjid.

“Kalau BTS Camouflage XL, di antaranya ada di wilayah Senayan dan Lenteng Agung,” katanya.

Walaupun terdiri dari beragam bentuk, BTS tersebut tetaplah memiliki fungsi yang sama. Sinyal komunikasi, mulai dari 2G 3G, hingga 4G, dipancarkan dari BTS tersebut.

Selain XL, operator lain pun ada yang memiliki BTS Camouflage. Salah satunya Telkomsel yang memasang menara dengan bagian pucuk menyerupai pohon palem.

“Dari sisi estetika lingkungan, Telkomsel mengimplementasikan solusi BTS yang mendukung keasrian lingkungan melalui pengembangan inovasi antena kamuflase (towerless),” kata VP Corporate Communication Telkomsel, Adita Irawati.

Umumnya antena kamuflase Telkomsel dibangun di kawasan pemukiman padat penduduk, di mana pembangunan menara BTS tidak dimungkinkan karena ketiadaan lahan.

Solusi ini memungkinkan antena BTS dipasang di berbagai fasilitas umum yang disamarkan, seperti di menara masjid, pohon, tiang lampu, tangki air, dan sebagainya.

Kawasan di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang sudah diterapkan antena kamufase ini di antaranya di Menteng dan Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang.

Dimas Widyasastrena
Salah satu akun media sosial yang menyebut soal BTS pohon
Sebelumnya, netizen sempat ramai membagikan foto pohon yang digelantungi alat pemancar.

Pantauan KompasTekno di Facebook, salah satu yang membagikan foto BTS jenis ini adalah akun Dimas Widyasastrena.

“Ini BTS? Pohon? Pohon jadi BTS? Apa BTS jadi pohon? Oh ya, nama latinnya GeSeMin FORJItus,” canda akun tersebut.

Cara Swedia Atasi Konflik “Startup” dengan Perusahaan Tradisional

Industri teknologi menjadi salah satu penggerak ekonomi di Swedia sejak 2005 lalu. Pada tahun itu, Skype tercatat sebagai startup unicorn pertama yang dicetak Swedia, kemudian disusul Spotify, King, Mojang, dan Klarna. Ibukota Swedia, Stockholm, bahkan dijuluki sebagai Silicon Valley-nya Eropa.

Julukan unicorn sendiri diberikan kepada startup yang memiliki nilai valuasi minimal 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun.

Menurut Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, Indonesia punya potensi yang sama besar untuk mengembangkan industri teknologi, lebih spesifiknya startup. Kemunculan Go-Jek, Tokopedia, dan Bukalapak, dinilai sebagai awal yang baik.

Meski demikian, Johanna tak menampik transformasi digital membawa tantangan bagi pemerintah. Salah satunya dalam menjembatani kemunculan startup dengan industri tradisional yang telah mapan.

“Selalu ada konflik, di Swedia pun seperti itu. Tapi apapun yang terjadi tak ada yang bisa menghentikan perkembangan teknologi,” kata dia di sela-sela acara “Indonesian-Swedish Digital Forum 2016” di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Cara mengatasi konflik

Johanna mengatakan hal yang paling krusial untuk mengatasi konflik adalah regulasi yang tegas dan sistem keamanan yang memadai. Selain itu, pemerintah juga perlu sering-sering berdiskusi dengan pelaku startup dan perusahaan konvensional.

Di Swedia, kata dia, pemerintah sudah lebih awal menyadari urgensi pengembangan teknologi. Karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan secara penuh mendukung ekosistem startup dan transformasi digital.

“Semua pihak harus berkolaborasi. Para sopir taksi tak mungkin selamanya jadi sopir taksi. Era berubah, industri juga selalu berevolusi. Makanya edukasi teknologi sangat penting,” ia menuturkan.

Johanna sesumbar transformasi digital di Swedia tak cuma diarahkan di sektor bisnis. Sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan juga mengimplementasikan inovasi teknologi. Hal tersebut diyakini mampu menyosialisasikan secara otomatis tentang pentingnya penerapan teknologi bagi masa depan.

Dalam perjalanannya di Indonesia, kemunculan startup yang menumpas kemapanan alias “disruptive” menghadapi halangan. Misalnya Go-Jek yang beberapa kali bersitegang dengan para pengemudi ojek tradisional.

Go-Jek menyediakan layanan ojek on-demand berbasis aplikasi untuk mengatasi masalah kemacetan dan kesulitan mendapat ojek di daerah tertentu. Inisiatif itu dianggap sebagian ojek tradisional sebagai perampasan pasar.

Aturan konkrit soal operasi layanan transportasi baru yang disebut ride-sharing ini sedang digodok oleh pemerintah sejak awal tahun ini. Selain Go-Jek yang merupakan startup lokal, aturan itu juga bakal mengikat Grab, Uber, dan layanan serupa.

GoPro Tak Sengaja Bocorkan “Drone” Buatannya

Minggu lalu, GoPro mengumumkan rencana untuk memperkenalkan drone buatannya, tanpa memberi gambaran seperti apa wahana terbang nirawak tersebut.

Namun, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari SlashGear, Selasa (6/9/2016), foto drone yang bakal dinamakan Karma itu tiba-tiba muncul secara prematur di sejumlah situs GoPro untuk wilayah Eropa, termasuk Italia, Jerman, dan Perancis.

Dalam gambar, tampak drone yang bersangkutan memiliki 4 rotor dengan kamera mirip GoPro Hero terpasang di mounting sisi depan.

Sejauh ini, selain 4 rotor tersebut, masih belum banyak informasi yang diketahui mengenai Karma. GoPro hanya mengatakan drone tersebut bakal dibekali kemampuan merekam video 4K, stabilisasi kamera, berikut sejumlah “fitur revolusioner” yang tak diungkapkan.

Drone Karma awalnya dijadwalkan meluncur pada pertengahan tahun ini, tetapi kemudian ditunda.

Selain drone bernama Karma itu, muncul pula gambar-gambar kamera aksi GoPro Hero 5 dan handheld stabilizer mirip DJI Osmo. Semuanya merupakan produk baru yang belum resmi diumumkan.

Rumor yang beredar menyebutkan bahwa kamera aksi Hero 5 itu bakal dilengkapi layar sentuh dan kemampuan anti-air secara default tanpa butuh casing tambahan.

GoPro bakal menggelar acara pada 19 September mendatang. Event tersebut diperkirakan bakal menjadi ajang perkenalan resmi produk-produk anyar di atas.