Cara Swedia Atasi Konflik “Startup” dengan Perusahaan Tradisional

Industri teknologi menjadi salah satu penggerak ekonomi di Swedia sejak 2005 lalu. Pada tahun itu, Skype tercatat sebagai startup unicorn pertama yang dicetak Swedia, kemudian disusul Spotify, King, Mojang, dan Klarna. Ibukota Swedia, Stockholm, bahkan dijuluki sebagai Silicon Valley-nya Eropa.

Julukan unicorn sendiri diberikan kepada startup yang memiliki nilai valuasi minimal 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun.

Menurut Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, Indonesia punya potensi yang sama besar untuk mengembangkan industri teknologi, lebih spesifiknya startup. Kemunculan Go-Jek, Tokopedia, dan Bukalapak, dinilai sebagai awal yang baik.

Meski demikian, Johanna tak menampik transformasi digital membawa tantangan bagi pemerintah. Salah satunya dalam menjembatani kemunculan startup dengan industri tradisional yang telah mapan.

“Selalu ada konflik, di Swedia pun seperti itu. Tapi apapun yang terjadi tak ada yang bisa menghentikan perkembangan teknologi,” kata dia di sela-sela acara “Indonesian-Swedish Digital Forum 2016” di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Cara mengatasi konflik

Johanna mengatakan hal yang paling krusial untuk mengatasi konflik adalah regulasi yang tegas dan sistem keamanan yang memadai. Selain itu, pemerintah juga perlu sering-sering berdiskusi dengan pelaku startup dan perusahaan konvensional.

Di Swedia, kata dia, pemerintah sudah lebih awal menyadari urgensi pengembangan teknologi. Karena itu, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan secara penuh mendukung ekosistem startup dan transformasi digital.

“Semua pihak harus berkolaborasi. Para sopir taksi tak mungkin selamanya jadi sopir taksi. Era berubah, industri juga selalu berevolusi. Makanya edukasi teknologi sangat penting,” ia menuturkan.

Johanna sesumbar transformasi digital di Swedia tak cuma diarahkan di sektor bisnis. Sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan juga mengimplementasikan inovasi teknologi. Hal tersebut diyakini mampu menyosialisasikan secara otomatis tentang pentingnya penerapan teknologi bagi masa depan.

Dalam perjalanannya di Indonesia, kemunculan startup yang menumpas kemapanan alias “disruptive” menghadapi halangan. Misalnya Go-Jek yang beberapa kali bersitegang dengan para pengemudi ojek tradisional.

Go-Jek menyediakan layanan ojek on-demand berbasis aplikasi untuk mengatasi masalah kemacetan dan kesulitan mendapat ojek di daerah tertentu. Inisiatif itu dianggap sebagian ojek tradisional sebagai perampasan pasar.

Aturan konkrit soal operasi layanan transportasi baru yang disebut ride-sharing ini sedang digodok oleh pemerintah sejak awal tahun ini. Selain Go-Jek yang merupakan startup lokal, aturan itu juga bakal mengikat Grab, Uber, dan layanan serupa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s